Memilih untuk diam dan memendam bukan sebuah tujuan tapi sebuah refleksi dari hasil yang nyata.
Ah dia si manusia unik itu. Sebelas tahun lama nya baru bisa mendengar suaranya. Ini bukan sebuah kebetulan ataupun keberuntungan, ini takdir dari sebuah usaha.
Usaha selama 11 tahun dari jamannya pager sampe tercipta medsos. tak terbayangkan sulitnya hari demi hari untuk bisa mengecek keberadaan mu.
Takdir...??? iya takdir
Tanpa disadari setiap kali melangkah dan bertemu dengan pujaan hati, pikiranku tak pernah lekang oleh sosok si Dia...
Jika tidak lah kusampaikan salam ku pada mu, mungkin aku akan jadi orang yang paling menyesal hidup di dunia ini, mengenalmu yang tak mengenalku, mencintai di masa anak kecil yang seharusnya belum pantas mengenal arti sebuah "Mencinta"
"Tuhan tak boleh kah aku bertemu dengan dia, walau hanya dengan suara, di sudut mana kah dia saat ini tertidur, aku tak perduli siapa yang sedang dia rindu, aku hanya ingin mendengar suaranya dan memperkenalkan diri, tak banyak yang kuminta ini hanya sebuah permohonan dari gadis kecil yang tak tahu diri"
Dalam angan dan doa, aku menyelipkan sebuah harapan yang kadang akupun merasa itu mustahil untuk terwujud
Pria Itu, adalah Lelaki Kecil yang aku lihat Di salah satu SMP terkenal di kota kecil di Pulau sumatera, dia berasal dari keluarga kaya, yang mana keluarga kaya selalu disediakan bus antar jemput dari rumah - sekolah, punya lingkungan bagus, dan status sosial tinggi, tak sembarangan orang untuk bisa masuk ke lingkungan perumahan dan bergaul dengan mereka. Di Kota kecil itu, ada sebuah perusahaan bergengsi yang masih menerapkan sistem kasta menurut jabatan orang tua nya. semakin tinggi jabatan orang tua nya semakin baik fasilitas yang mereka dapatkan.
ahhh tidak, aku tak tertarik dengan latar belakang nya, aku hanya tertarik dengan lelaki itu. Saat itu aku masih duduk di kelas 6 SD dan dia Kelas 1 SMP, sepulang sekolah aku membantu ayah ku berjualan di depan SMP Favorit itu, dari sanalah masalah muncul, walau dia tak pernah membeli dagangan kami, tapi aku tak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat nya, hingga suatu hari aku mendapatkan nama nya jelas tertulis "Meidiawan"
Aku selalu mengingat namanya dan belasan tahun kemudian aku baru menyadari arti nama indahnya "Menempuh jalan yang benar"
Nama itu selalu ada dalam hati, kelak dengan nama ini lah aku harus tahu siapa dia.
lantas akupun terpikir untuk bisa masuk ke sekolah favorit ini satu-satunya jalan harus belajar keras, untuk menggapai cita-cita dan cinta.
======
Masa Orientasi siswa baru dimulai, tapi aku tak pernah melihat nya.
sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, hingga enam bulan aku tak pernah melihat dia, bahkan di halte bus biasa dia menunggu bus antar jemput pun aku tak pernah menemukan dia.
Hingga kekonyolan ku muncul, untuk mendekati salah satu siswi yang berasal dari lingkungan dia. "Oh itu kalau tidak salah anak kelas 1-4 deh, oh dia anak kebon juga" iya mereka kami sebut anak kebon, karena mereka berasal dari keluarga kaya yang bekerja di Perkebunana swasta Amerika.
pendekatan masif akhir nya membuahkan hasil. Anak kelas 1-4 itu namanya viviane, aku mencoba berkenalan dengan nya di perpustakaan dan pura-pura membaca buku bersama, ketika bel masuk berbunyi aku pura-pura berjalan dibelakang dia, karena toh jalan menuju kelas kami sama.
Aku lakukan berulang-ulang hingga akhirnya kami mulai saling senyum dan sapa, kemudian berkenalan. Hingga akhirnya acting pertama dimulai, mulai mencoba main ke rumah nya, mencoba saling sharing belajar, banyak hal yang aku tahu tentang kehidupan di perkebunan ini.
Anak orang kaya yang punya status sosialnya sendiri, tentu punya pergaulan yang berbeda dengan mereka yang ortu nya hanya staf biasa.
kenapa di jaman merdeka ini masih harus ada kasta dalam kehidupan sehari-hari. memuakkan sekali.
Kami pun berjalan-jalan di sekitar lingkungan perumahan perkebunan, dari kejauhan aku melihat rumah dengan cet putih bergaya belanda, rumah yang terlihat berbeda dengan rumah viviane, halaman luas, pohon-pohon rindang, aneka bunga, teras depan untuk menyantap teh di sore hari, dan bagian belakang rumah yang biasanya disediakan balkon.
"Pantes saja mereka berbeda, mereka sudah dibentuk mulai dari rumah, sangat kentara sekali perbedaan nya"
======
"Vi, aku mau nanya, Dulu aku pernah tahu ada anak SMP kita, keitung kakak kelas lah, dia anak kebon sini juga, tapi sdh lama aku tak pernah melihatnya namanya Meidiawan"
aku mulai berani bertanya di tahun ke 2 aku berada di SMP ini.
Dari Viviane aku tahu, dia sudah pindah satu tahun lalu, dari viviane aku tahu kalau dia memang berbeda, di saat yang lain tidak mau bergaul dengan mereka-mereka yang di kelas bawah, Meidiawan malah suka bergaul di luar "lingkungan elite"
"nama panggilannya Didi"
pupus sudah harapan...
Ahhh tapi dia cuma pindah ke ibu kota, bukan tempat yang jauh, hanya berjarak 3 jam dari kota kecil ini. Mungkin nanti kalau kuliah aku bisa ke kota itu untuk mencari dia.
lima tahun kemudian......
Sudah lama setelah 3 tahun lalu aku ke tempat ini...
"Vivi...... apa kabar, kangennnn.."
itulah pertemuan terakhir ku di tempat ini dengan viviane.
"Vi, aku mau pergi ke pulau jawa, di sana aku akan kuliah, tampak nya aku lelah kalau harus berbohong, aku mulai menyerah dengan didi, karena dia tak pernah mengenal aku, dan akupun tak pernah tahu dia ada dimana, makasih yah vi, kamu udah bantu aku selama ini. maaf kalau akhirnya aku harus jujur, awal aku mengenalmu hanya ingin tahu tentang didi"
'Kamu jangan pernah menyerah, aku dengar dia kuliah di jogja. karena kakak2 nya kuliah di sana semua, semoga kamu bisa ketemu d pulau jawa yah'
itulah perpisahan terakhir ku dengan vivi yang sangat membantu aku,dan setelah nya aku pun lupa tentang vivi, aku tak pernah kembali lagi, aku bener2 lupa tentang keberadaannya.
juni 2006...
ini adalah moment yang tak pernah bisa kulupakan seumur hidupku, meski pada akhirnya aku akan jadi milik orang lain, ini akan jadi moment terindah dalam hidup ku, aku tidak akan pernah menyesal telah lahir ke dunia ini.
continue....